BOJONEGORO — Suasana pagi hari matahari baru saja beranjak naik di Dusun Kedungasri, Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru. Udara dingin khas persawahan perlahan berganti hangat. Di tengah hamparan tanah yang subur, M. Ro’is (54) sudah mengayunkan cangkulnya dengan penuh harap. Ia sedang menyiapkan lahan untuk tanaman tembakau—sebuah ikhtiar panjang demi menyambung asap dapur dan masa depan keluarga.
Namun, takdir menuliskan cerita yang berbeda. Tepat pada Senin, (08/6/2026) pukul 07.25 WIB, dalam sunyinya hamparan sawah, ayunan cangkul itu mendadak terhenti untuk selamanya.
Detik-Detik Sunyi yang Tak Terduga
Sutrisno, seorang tetangga yang berada tak jauh dari lokasi, menjadi saksi bisu bagaimana rapuhnya kehidupan manusia, ia melihat Pak Ro’is bekerja seperti biasa. Kuat dan bertenaga. Namun dalam hitungan detik, tubuh legam yang biasa akrab dengan lumpur itu mendadak diam, lemas.
“Menurut keterangan saksi, korban terlihat mencangkul di area sawah. Tidak lama kemudian korban tampak diam tidak bergerak,” ungkap Kapolsek Kepohbaru, IPTU Supriyanto.
Ahirnya ia minta tolong memecah keheningan pagi. Warga berdatangan, disusul tim medis dari Puskesmas Kepohbaru yang bergegas menuju lokasi. Namun, denyut nadi pejuang nafkah itu sudah berhenti. Pak Ro’is mengembuskan napas terakhirnya tepat di atas tanah yang selama ini ia rawat untuk menghidupi keluarganya. Ia diduga kuat mengalami serangan jantung mendadak.
Hasil olah TKP oleh pihak kepolisian menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan. Kematian ini murni karena kondisi medis—sebuah alarm sunyi yang datang tanpa permisi.
Kematian mendadak Pak Ro’is meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang kini hanya bisa memeluk ikhlas musibah ini. Jenazah telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan secara layak setelah mereka menolak proses autopsi.
Namun di luar sana, peristiwa ini mengetuk pintu hati kita masing-masing. Berita ini bukan sekadar angka atau deretan kalimat duka, melainkan sebuah cermin besar bagi kita yang masih bernapas.
Tubuh kita bukan mesin, terkadang, demi tanggung jawab dan cinta pada keluarga, kita memaksakan diri bekerja melampaui batas tanpa mendengar jeritan lelah dari dalam tubuh.
Serangan jantung tak kenal tempat: Ia bisa datang saat kita memegang pulpen di meja kantor, mengemudi di jalan raya, atau saat memegang cangkul di tengah sawah.
Kenali tanda bahaya, nyeri dada yang samar, sesak napas yang dianggap angin lalu, pusing, atau kelelahan ekstrem sering kali adalah cara tubuh memohon agar kita berhenti sejenak.
Pak Ro’is telah menyelesaikan tugasnya di dunia ini dengan cara yang sangat terhormat, bertaruh peluh hingga napas terakhir demi keluarga.
Hari ini, mari tengok diri kita sendiri. Sudahkah kita bersyukur atas napas hari ini? Dan sudahkah kita merawat tubuh yang selama ini dipaksa mencari nafkah? Jangan tunggu tubuh ambruk untuk menyadari bahwa kesehatan adalah harta paling berharga yang kita miliki. (San/red)


