Kajian Aswaja Ansor Kadungrejo: Kalau Ingin Menjadi Wali, Lakukan Tiga Hal ini

ptwartaberita
IMG 20260925 WA0033(1)

Bojonegoro – wbbnews.id, Dalam momentum Kajian Kitab Aswaja yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Kadungrejo (25/09/2026). KH Sholih Tsaubant menuturkan, ada ulama dawuh dalam sebuah kitab, bahwa seseorang yang diangkat derajatnya menjadi waliyullah itu ada tiga syarat.

Pertama, harus alim. Menurut Kiai Sholih, orang yang berilmu itu harus ngaji, bukan hanya mengandalkan keturunan kiai. “Kalau ingin jadi wali, ya harus alim. Alim bukan karena keturunan,  tapi dengan ngaji,  seperti kita ini”, terangnya.

Syarat kedua, harus tawaduk atau rendah hati. Yakni bersikap tawaduk kepada siapapun, tidak menampakkan sifat angkuh dan sombong kepada sesama manusia. “Harus tawaduk, tidak takabur. Kalau masih punya penyakit sombong, tidak akan bisa jadi wali”, tutur Kiai Sholih.

Ketiga, atau syarat yang terakhir ialah dermawan. Dalam pemaparan Kiai Sholih, orang yang pelit itu tidak disukai oleh Allah. Maka dari itu, orang pelit tidak akan jadi seorang wali. “Kudu luman (harus dermawan), orang pelit tidak bisa jadi wali, karena Allah tidak senang”, tegasnya.

Kajian rutin ini berlangsung di serambi Masjid Al-Barokah, dukuh Kadung, turut  desa Kadungrejo, Baureno Bojonegoro. Diikuti oleh sekitar lima puluhan anggota dan kader Ansor, serta masyarakat secara umum.

Sebelumnya, Ketua GP Ansor Kadungrejo, Sahabat Andik, menyampaikan dalam sambutan, mengucapkan banyak terima  kasih kepada segenap yang hadir, khususnya kepada tuan rumah yang telah menyediakan tempat dan hidangan yang tidak sedikit. “Terima kasih banyak kepada tuan rumah Masjid Al-Barokah, semoga amal panjenengan, dicatat sebagai  amalan maqbulan” ucapnya.

Rais Syuriyah NU Kadungrejo, Kiai Moh. Maulan, turut memberikan sekapur sirih, dengan meluapkan rasa syukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah, berupa panen padi. “Namun, ada kenikmatan yang lebih besar daripada panen hari ini, yakni kenikmatan masih diberi keteguhan iman dan ihsan”, terangnya.

“Ada kenikmatan yang lebih besar lagi daripada itu, yaitu orang yang masih peduli kepada dirinya sendiri”, tandas Kiai Maulan. “Ini banyak anggota yang tidak hadir, berarti belum peduli kepada dirinya sendiri”, tegasnya kembali.

Kembali pada topik di atas, Kiai Sholih menjelaskan dalam kajian aswaja. Bahwa hati yang baik itu hati yang bersih dari penyakit hati, seperti sombong, ujub, hasut, dan dengki. Di sebuah zaman, ada seorang yang rajin ibadah hingga ratusan tahun. Lantas meminta nabinya untuk bertanya kepada Allah. Dengan bekal ibadah yang rajinnya luar biasa, kira-kira besok ia masuk surga tingkat berapa, saking ujubnya. Ternyata jawaban Allah, tempat seseorang tadi di akhirat  bukan di surga, tetapi di neraka.

“Hati yang baik, yang lepas dari penyakit hati, akan diberikan keselamatan dunia dan akhirat”, tutur Kiai Sholih. (Irur)